Wisata Dolog Tinggi Raja

Dolok Tinggi Raja
Dalam rangka mengenalkan berbagai objek wisata di Kabupaten Simalungun, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya tidak henti-hentinya melakukan berbagai sosialisasi. Langkah tersebut dilakukan agar berbagai objek wisata yang ada selalu dikunjungi para wisatawan lokal maupun mancanegara serta untuk tetap melestarikan objek wisata tersebut.
Salah satu program atau rencana Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Simalungun yang mengikutsertakan peran serta biro perjalanan, mempromosikan berbagai objek wisata. Salah satunya objek wisata pemandian air panas Tinggi Raja. Lokasi pemandian sangat asri konon menyimpan segudang cerita klasik, apalagi dibungkus mitos cerita legenda.
Pemandian air panas Tinggi Raja terletak di Nagori Dolok Marawa Kecamatan Silou Kahean Kabupaten Simalungun. Jarak tempuh dari kota Pematangsiantar lebih kurang 121 km berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai. Objek wisata Tinggi Raja termasuk kawasan cagar alam dengan luas areal lebih kurang 167 Ha.

Dengan menelusuri jalan setapak, kita tiba di objek wisata pemandian air panas Tinggi Raja. Mencermati alam sekitar memang lingkungan pemandian menyiratkan keasrian. Ragam tetumbuhan termasuk pohon-pohon langka diteduhi dedaunan warna hijau lebat membuat mata sejuk memandang.
Konon menurut cerita warga, di lokasi pemandian tersebut terdapat bunga yang bernama tinggi raja. Bunga yang disebut-sebut dapat memberi “keuntungan” bagi pengunjung, bila dipetik dari batangnya. Para pengunjung kerap membawa oleh-oleh bunga tersebut bilamana mereka datang ke objek wisata tersebut. , objek wisata pemandian air panas Tinggi raja banyak didatangi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.


Untuk memperindah tempat pemandian tersebut, Pemkab Simalungun membangun jalan setapak sepanjang 300 meter serta membangun tempat ganti pakaian. Pemkab memberi atensi dengan membangun infrastruktur di luar fasilitas pemondokan. Tujuannya, agar wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri betah tinggal berlama-lama di kawasan tersebut. Ini cerita masyarakat setempat, waktu dulu di tahun delapan puluhan.
Bagaimana kondisi sekarang? Saat ini kondisi objek wisata pemandian air panas Tinggi Raja memprihatinkan. Selain jalan menuju ke lokasi rusak parah, kondisi jalan setapak menuju pemandian juga kurang terawat. Berbicara soal atensi wisatawan mengunjungi daerah tersebut, praktis minim. Paling banter datang ke tempat tersebut hanya penduduk lokal,
Lalu apa upaya? Sudahkah ada terobosan berarti dibuat Pemkab Simalungun? Sepanjang pengamatan dengan kasat mata, terkesan nyaris belum ada. Karena itulah untuk mengembangkan objek wisata pemandian air panas Tinggi Raja diperlukan keseriusan objek wisata Pemkab Simalungun. Kalau tidak, dikhawatirkan di tahun-tahun mendatang, objek wisata Tinggi Raja bisa tinggal nama atau setidaknya hilang dari peta dunia kepariwisataan,
Lantas apa upaya? Sudahkah terpikirkan Pemkab Simalungun memperbaiki infrastruktur jalan? Sebab, tidak bisa terbantahkan, memang kondisi jalan menuju objek wisata tersebut memprihatinkan.
Mitos historis Dolok tinggi Raja
Dahulu, Dolok Tinggi Raja atau yang sekarang ini dikenal masyarakat objek wisata pemandian air panas Tinggi Rajam, dihuni oleh penduduk dan punya legenda menarik untuk disimak. Kawasan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang mempunyai ratusan jabalon (pelayan perempuan dan laki-laki).


Sang raja memiliki seorang putri yang cantik. Karena cantiknya sang putri tidak diijinkan untuk bersosialisasi dengan orang lain kecuali dengan pelayan. Putri tersebut adalah anak yang manja, apapun yang diminta pasti dikabulkan oleh orangtuanya. Ketika musim tanam tiba, sudah menjadi kebiasaan bagi raja dan pelayan-pelayannya menghabiskan waktu untuk menanam padi.
Mereka bekerja pada sore hari dan mengadakan pesta. Saat pesta, mereka dapat bernyanyi dan menari bersama gadis-gadis cantik di desa. Sementara putri raja tersebut hanya dapat tinggal di istana dengan nenek dan pelayannya. Dia dikurung selama dua hari dan merasa kesepian sambil terus menangis.
Kemudian sang putri melepaskan seekor burung dari kandang dan menulis pesan pada ayahnya dan meletakkan surat tersebut pada salah satu kaki burung. Meski kesepian neneknya berusaha menghibur dan menyuruh pelayan membuat suatu pesta besar dan mengundang semua pemuda desa. Mereka semua sangat senang, bernyanyi, menari bersama.


Pada pagi harinya sebelum menanam padi (matidah) raja menyuruh pelayan-pelayannya menyediakan makanan untuk ibunya. Raja sendiri memilih daging tersebut dan membungkusnya karena dia tahu daging adalah makanan kesukaan ibunya. Kemudian beberapa pelayan (jabolon) meninggalkan istana. Dalam perjalanan mereka membuka bungkusan dari raja yang akan diberikan kepada ibunya.
Lalu pelayan tersebut memakan semua makanan dan membungkus sisanya untuk diberikan kepada putri raja dan neneknya. Ketika para pelayan tiba sang nenek sangat senang menyambut para pelayan sambil membuka bungkusan. Sayangnya saat dibuka isi bungkusan ternyata tinggal tulang-tulang (holi-holi).
Sang nenek dan putri raja merasa terpukul. Mereka tidak menduga bahwa raja sanggup memberikan penghinaan yang sedemikian besar. Meliht kejadian para dayang-dayang diam terpaku terbawa arus perasaan dan pikiran masing-masing disertai deraian air mata.
Akhirnya sang nenek bersama cucunya dn para tamu istana mengajak bernyanyi seolah-olah bergembira menerima kiriman dari raja. Pesta semakin meriah dan tidak terkendali. Sang putri merasa bebas menari berganti-ganti dengan setiap pemuda yang mulai brutal dan berpelukan. Saat bernyanyi tanpa diiringi musik diikuti oleh gerakan-gerakan aneh dengan syair lagu yang monoton, “manong-nong Tinggi Raja (tenggelam tinggi raja)” yang diulang berkali-kali dan diikuti oleh seluruh dayang-dayang dan pemuda serta kucing-kucing istana.
Sambil bernyanyi sang putri berteriak-teriak menyumpahi dan mengutuk sang raja. Kegiatan aneh ini berlangsung sepanjang malam tanpa mereka sadari menjelang dini hari di sekitar istana bermunculan mata air panas dan belerang yang sangat banyak. Akhirnya istana beserta seluruh penghuninya tenggelam ke kolam air panas dan belerang.


Sementara raja dan permaisuri serta seluruh rakyat masih melanjutkan kegiatan bertanam. Pada saat istirahat, sang raja dikagetkan dengan kicauan seeokor burung yang sangat dia kenal suaranya yang mendirikan bulu roma sang raja. Dengan serta merta sang raja memerintahkan untuk pulang. Setelah sampai di kawasan istana, sang raja terkejut melihat istananya lenyap. Yang ada hanya lautan air panas dan belerang.
Sang raja bersama ke permaisurinya pun berusaha menemukan sang putri dan ibunda tercinta. Dengan masuk ke dalam air panas dan belerang akhirnya sang bbbraja dan permaisuri serta pengawal akhirnya turut lenyap di dalam air panas tersebut.

Sumber : http://www.facebook.com/group.php?gid=121482657867974

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


3 Responses to Wisata Dolog Tinggi Raja

  1. kampungku itu lae…
    dolok marawa…
    :D

  2. info nice!!semoga wisata tinggi raja mendapat perhatian dari pemerintah baik kabupaten-provinsi maupun pusat…Maju simalungun ..Maju tanoh habonaron

  3. jenges tene tempat wisata on. baru nabotoh dong tempat wisata on huta ta simalungun. sai andohar cepat i benahi tempat wisata on.

    Nice info Pak Admin..keep posting :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>