Marga-Marga Simalungun

Simalungun mengenal 4 marga (morga) yang kerap disebut dengan morga sioppat, yaitu Sinaga, Purba, Saragih, dan Damanik atau disingkat dengan SIPASADA. Hubungan kekeluargaan, asal, dan silsilah (tarombou) dari keempat marga ini belum dapat ditentukan secara ilmiah, namun yang pasti mereka ini saling bersanina, bertondong, dan beranak boru dalam bingkai Tolu Sahundulan Lima Saodoran dengan berfalsafah hidup pada Habonaron Do Bona.

Marga Sinaga mengenal beberapa cabang marga dengan kategori berikut:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Dadihoyong, Porti, Simaibang, dan Simanjorang

2. Cabang dari Toba, yaitu Bonor (Pande, Suhut ni Huta atau Sidasuhut), Uruk, Oppu Ratus. Lalu ada beberapa marga lain yang dahulu pada masa eksisnya kerajaan-kerajaan Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga, di antaranya seperti Sipayung, Silalahi, Sihaloho, Sitorus, Sirait, Butar-Butar, Manurung, Sinurat, dan lain-lain.

Marga Purba mengenal beberapa cabang, yaitu:

1. Cabang asli Simalungun meliputi Tambak, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Siborou, Sigumonrong, Silangit, Sihala, Tua, Tanjung, Tondang, Tambun Saribu, dll

2. Cabang dari Pakpak, yaitu Pakpak (dari Tungtung Batu) dan Girsang (Lehu).

3. Cabang dari Toba yaitu Manorsa, cabang marga ini hanya dijumpai di daerah Haranggaol. Sementara itu, untuk marga Purba Toba yang banyak bermukim di daerah Dolok Sanggul juga mengenal beberapa cabang, seperti Sigulang Batu, Parhorbo, dan Pantom Hobon.

Kaitan antara marga Purba Simalungun dengan Purba Toba ini, penulis berpendapat keduanya berasal dari satu keturunan, namun saya belum mampu menguraikan siapa yang lebih dulu ada di antara keduanya. Purba yang dikaitkan dengan Simamora, Manalu, Debataraja, Rambe, dan Lumban batu, penulis berpendapat mereka tidak ada hubungan satu sama lain.

Sebagaimana halnya marga di atas, marga Saragih juga mengenal cabang-cabang dengan kategori berikut:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Sumbayak, Garingging, Sidasalak, Sidajawak.

2. Cabang dari Toba, yaitu Turnip, Siadari, Sijabat, Sidauruk, Simanihuruk, Sinapitu, Siallagan, Sitio, Sidabutar, Sidabalog, Simarmata, Sitanggang, Ruma Horbo (di Simalungun membentuk cabang baru yaitu Simaronggang) , Tamba, dan Sidabaho (Naibaho), dll.

3. Cabang dari Karo, yaitu Munte.

4. Lalu beberapa cabang yang belum diketahui secara pasti keberadaannya apakah sebagai cabang asli atau pendatang seperti Sidamuntei, Parmata, Sidapulou, dan Simatondang.

Demikian juga marga Damanik mengenal beberapa cabang, yaitu:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Rappogos, Malayu (asal marga Malau), Barotbot, Usang, Bayu, Sola, Sarasan, Rih, Hajangan, Simaringga, dll.

2. Cabang dari Toba, yaitu: Manik (Raja), Malau, Gurning, Tomog, Ambarita (Bariba), Limbong, Sagala, dll.

Penulis Oleh Masrul Purba Dasuha

Tambahan

Suku Simalungun asli adalah keturunan marga Sisadapur + Sipayung. Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba serta Sipayung. Simalungun itu mirip dengan Karo. Karo memiliki 5 marga, demikian pula Simalungun. Marga di Simalungun itu identik dengan marga raja (harajaan). Marga Purba adalah marga raja (dinasti) di bekas Kerajaa n Panei, Dolog Silou dan Silimakuta (Nagasaribu); marga Saragih raja di Kerajaan Raya dan onggou Sipoldas (Saragih Sidabuhit),

Sinaga marga Raja Batangiou dan Tanoh Jawa, Damanik marga raja Nagur dan Siantar. Terakhir Sipayung adalah Harajaan (Dewan Kerajaan) di Kerajaan Dolog Silou (Anakboru Dolog). Dan marga raja Simalungun itu dari penelitian saya (baik wawancara langsung dengan keturunan raja-raja Simalungun dan penelusuran arsip dan blog di internet ini) membantah asalnya adalah dari orang Toba-Samosir. Alasan yang sangat meyakinkan adalah bahwa di Toba

sampai hari ini tidak dikenal yang namanya “kingdom” atau negara. Dan ini sudah diakui tuntas oleh Dr. L. Castles dari Ohio University, Batak Toba itu “stateless”, sedangkan Simalungun itu mengenal tradisi bernegara yang diakui oleh Prof. Dr. W. Liddle dari AS. Kemudian di Simalungun ada fungsionaris Harajaana yang terapilkasi dalam adat Simalungun sampai sekarang, yaitu Anak Bor Jabu dan Anak Boru Mintori, status adat yang tidak ada di Dalihan Natolu Batak Toba dan Mandailing, hanya ada di Suku Karo dan Simalungun.

Ini membuktikan kemungkinan yang seketurunan adalah suku Karo dan Simalungun dari bekas Kerajaan Nagur dan Aru. Seandainya suku Simalungun itu dari Toba, maka Simalungun sekarang tidak ada bedanya dengan daerah Balige atau Humbang Hasundutan sekarang yang mirip (similar) secara adat, budaya, bahasa dan sejarah. Ini tidak! Jadi, dengan tidak mengesampingkan

ada “tokoh Simalungun” yang tidak jelas identitasnya yang malu jadi orang Simalungun sehingga perlu menjadi Ketua di Perkumpulan Marga Toba, saya sebagai seorang keturunan raja Panei menyatakan tegas: Suku Simalungun itu adalah suku asli Sumatera Timur yang pernah karena serangan Singosari dan Majapahit serta Aceh dan terakhir Revolusi Sosial pergi dan pindah ke daerah di Toba, Karo dan Pakpak, dan malu mengaku dirinya orang Simalungun, karena dicap feodal.

Sumber : http://sevilla99.wordpress.com/
Sebagian Tulisan Kontribusi Oleh Masrul Purba Dasuha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


8 Responses to Marga-Marga Simalungun

  1. Parlindungan Damanik

    Yth Teman teman , mohon penelitian tentang Marga Damanik , khususnya karena ada Penamaan Damanik Bariba. Apa maksudnya Bariba itu dan sejarah penamaan Bariba. Dibawah ini berbagai Literatur tentang Damanik. Terima Kasih . GBU all Amin.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Damanik
    ………Pada abad ke-12, keturunan Raja Nagur mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola I dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:[2]

    * Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
    * Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
    * Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)

    Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun………..

    http://simalungunonline.com/marga-marga-simalungun.html
    1. A. DAMANIK

    Jika dirunut dari Dinasti Nagur, Damanik merupakan turunan dari Raja Nagur, yaitu Marah Silau – yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar, Soro Tilu – yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola, serta Timo Raya – yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)

    Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang mengaku sub-clan Damanik di Simalungun.

    Damanik merupakan morga (marga) asli dan tertua di Simalungun. Jika Damanik diberi arti Simada Manik (pemilik manik), maka Damanik berarti Pemilik Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).

    http://simalungunonline.com/%E2%80%9Cperjalanan-simalungundamanik-dalam-tinjauan-habonaron%E2%80%9D.html
    …..Sejak zaman Nagur, Damanik telah menjadi leader bagi tamadun marga lainnya. Sebagai marga bangsawan awal, Damanik mengatur tatanan kesimalungunan.

    Jika direnungkan bahwa tiap-tiap raja goraha non Damanik adalah menantu Damanik sebagai Raja kala itu. Bukan sebuah ungkapan berlebihan jika Damanik mempengaruhi dan mewarnai etnografi, linguistik, sosiokultur maupun genetika marga lain………….

    http://halibitonganomtatok.wordpress.com/2009/01/22/sang-naualuh-raja-siantar/
    Untuk Melihat Silsilah Keluarga Damanik dapat di baca :
    1. Raja Sang Naualuh : sejarah perjuangan kebangkitan bangsa Indonesia / disusun oleh Jahutar Damanik. http://catalog.hathitrust.org/Record/001100952 , Silsilah Raja Sang Naualuh Damanik pada halaman 36 terlihat jelas Hubungan Keluarga Damanik Sipolha, Bandar, Siantar dan Sidamanik.( Jahutar Damanik keturunan Opung Si Tahan Batoe / Toean Laen / Nai Tukkup / Toean Van Si Polha ).
    2. DAMANIK BARIBA. Dari Kedatuan Nagur hingga Kerajaan Siantar (abad ke-6 sampai tahun 1904/1946) Dihimpun oleh Syah Alam Damanik, AVM Ret . Sarasehan – Seminar Damanik Hotel Millenium Jakarta Tanggal 25 Februari 2006. halaman 36 terlihat jelas Silsilah Damanik Sipolha, Siantar, Bandar , Sidamanik………..

    http://www.facebook.com/topic.php?uid=184894687492&topic=12720
    ……Raja Sang Naualuh Damanik Bariba, lahir di Pematang Siantar tahun 1857. Ia merupakan Raja ke XIV yang memerintah dari tahun 1882–1904. Kerajaan Siantar didirikan oleh Partigatiga Sipunjung pada tahun 1350 dan Sang Naualuh merupakan generasi penerus yang semangat perjuangannya tidak jauh berbeda dengan nenek moyangnya tersebut. Selama memimpin Kerajaan Siantar, ia sangat gigih berjuang menentang penjajahan Belanda, baik secara fisik maupun secara politis. Akibat perlawanan dan penolakannya menandatangani tanda takluk kepada Belanda yang dikenal dengan ‘Korte Verklaring’ akhirnya putra terbaik Simalungun tersebut ditangkap penjajah Belanda pada 1904. Selama dua tahun di dalam tahanan, Belanda belum juga merasa puas ia lalu diasingkan seumur hidup ke Pulau Bengkalis pada tahun 1906………..

    ……….Drs Sahat
    SANG NAUALUH ARTINYA 8 SIFAT YANG BAIK NAMANYA ADALAH RAJA NAMARTUAH DAMANIK DABARIBA PUTERA BUNGSU DARI RADJA ANGGI ANGGI OMPU BARANGSI GELAR RADJA NA I PARSORUAN,LAHIR 24 APRIL 1870,MASUK ISLAM 1901,WAFAT 1914 DI PENGASINGAN PULAU BENGKALIS.RADJA SIANTAR KE 13 DARI KETURUNAN PENDIRI YAKNI RADJA PARMATA MANUNGGAL DAMANIK DABARIBA.DITANGKAP BELANDA PADA TAHUN 1906 WKT KUNJUNGAN KERJA KE BATUBARA DAN ZIARAH KE MAKAM OMPUNG RADJA PARMATA MANUNGGGAL DI LAUT TADOR BATUBARA.BELIAU ORANG BERMASYARAKAT DAN SEDERHANA,TAPI ANTI PENJAJAH BELANDA.PARTIGA TIGA HAPUNJUNG ADALAH MARGA MANURUNG DARI SIBISA TAPANULI UTARA YANG MERUPAKAN PENASEHAT UTAMA RADJA ANGGI ANGGI DALAM BIDANG PERTANIAN,LOGAM DAN PEMBANGUNAN DAERAH YANG DIANGKAT RADJA SEBAGAI DEWAN HARAJAAN BERSAMA PENASEHAT UTAMA PEMERINTAHAN DAN PERTAHANAN,YAKNI BAH BOLAK TANGMA DAN BAH BOLAK URAT.SANG NAUALUH DIASINGKAN KE BENGKALIS BERDASARKAN BESLUIT NO.1 THN1906 Y.O.BESLUIT NO.57 TANGGAL 22 JANUARI 1908 YANG MEMBERHENTIKANNYA SEBAGAI RADJA SIANTAR DAN MENGANGKAT PUTERANYA WALDEMAR DAMANIK DABARIBA SEBAGAI RADJA DAN TUAN SAWADIN DAMANIK DABARIBA TUAN BANDAR SEBAGAI WAARNEMENT,PEMBANTU HARIAN PELAKSANA TUGAS TUGAS KERAJAAN SAMPAI WALDEMAR DEWASA YG DIBANTU OLEH TUAN SIDAMANIK RIAH HATA,TUAN MARIHAT DAN BAH BOLAK……….

    http://www.sipituhuta.com/index.php?option=com_content&view=article&id=26:extensions&catid=29:the-cms&Itemid=40
    ……….Pada abad ke-13 hiduplah tiga orang keturunan marga Damanik Sidabariba atau lebih akrab disebut Bariba yang bersaudara, yaitu Parmata Manunggal yang tertua (bukan nama asli tapi gelar), Anggaranim saudara tiri, dan adik mereka Partigatiga Sihapunjung (bukan nama asli tetapi gelar). Ketiganya bermukim di suatu kampung kecil yang dahulu disebut Siantar Matio (Sibisa Lumban Julu, dekat Kota Parapat sekarang)………..

    http://sevilla99.wordpress.com/tag/damanik/
    ………Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara. Pada abad ke-12, keturunan Raja Nagur mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:

    Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)…………..

  2. Juandaha Raya P. Dasuha

    Masrul ini sering kebablasan, masa DAMANIK TOMOK (dia tulis Damanik Tomog)disebutnya dari Toba. Isteri saya Damanik Tomok dan tulang saya Kadim Morgan Damanik (mantan Ketua Umum PMS Kabupaten Simalungun) tidak pernah setuju bila disebut Damanik Tomok itu dari Toba sana. Keliru itu!

    Damanik Tomok itu sudah lama ada di Tambunraya (Sibona-bona). Dalam buku Jaramen Damanik berjudul Ompung Na I Horsik ditulis: “bahwa sebelum Ompung Na I HOrsik tiba di Sidamanik, sudah ada marga Damanik di daerah Sidamanik dan marganya pun Damanik, termasuk Damanik Tomok yang menjadi penguasa di Tambun Raya, Huta Mula, Sihilon sampai ke Maniksaribu.

    Marga Damanik Malayu itu keliru menyebut asal dari marga Malau di Toba. Salah itu! Yang jelas marga raja Nagur itu sempat sebagian mengaku Damanik Malayu, karena mereka menurut legenda datang dari Malayu (apakah Kerajaan Malayu sezaman dengan Sriwijaya, atau Malayu di India?)

    Demikian marga Saragih, jelas itu datang dari Karo, satu marga Ginting Munthe (Suka?) yang menjadi Garingging di Raya (sampai sekarang masih ada kampung Garingging di Sipituhuta Tanah Karo dan penduduknya marga Munthe).

    Sedangkan marga Saragih Dajawak sendiri jelas-jelas itu peralihan dari marga Sijabat, itu yang saya dapat informasinya dari marga Saragih Dajawak yang di Raya dan Jawak yang di Rakutbesi. Nama asli ompung mereka bernama Sitoba-toba yang kawin dengan puteri Tuan Silimakuta marga Girsang, keturunannya yang tua tinggal di Rakutbesi, yang tengah ke Raya (Raya Kahean dan jahei-jahei), yang bungsu ke Tanah Karo menjadi Ginting Jawak.

    Jelas, masih dibutuhkan penelitian lanjutan tentang asal-usul orang Simalungun ini, tetapi saya tetap tidak setuju bila kesamaan marga ditarik-tarik kepada asal-usul dari Toba sana.

    Ada banyak nama yang sama dan mirip di dunia ini, apakah itu otomatis berasal dari nenek moyang yang sama? Kalau anak saya misalnya saya buat namanya Hutabarat, karena anak saya itu dilahirkan di Barat (Eropa), apa terus anak saya itu kelak setelah ratusan tahun kemudian disebutkan orang-orang berasal dari Hutabarat di Toba sana. Kan tidak nyambung?

    Jadi Masrul kalau mau menulis marga-marga Simalungun harus hati-hatilah, Anda jangan hanya baca buku, datang ke Simalungun Atas, kunjungi orang-orang tua dan tentunya harus punya data yang obejektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    Sejarah itu bukan bikin-bikinan sesuka hati lho, sejarah itu adalah hasil penalaran dan penelitian bukit-bukti historis yang dapat diterima logika (akal).

    Demikian juga marga Sinaga Sidasuhut, itu asli marga Sinaga dari Simalungun, sampai sekarang mereka menjadi partuanan di kampung Girsang, kalau mau tahu tentang Sinaga Sidasuhut tanya langsung kepada keturunanya Tuan Gindo Hilton Sinaga di Tigadolok. Beliau keturunan langung Tuan Girsang.

    Demikian juga marga Purba, kita tidak tahu apakah ada marga Purba yang asli di Simalungun. Setahu saya marga Purba Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir itu berasal dari keturunan yang sama, yakni Raja Silou. Meski diakui nenek moyang Raja Silou bukan dari Toba (baca buku Sejarah Batak karangan Batara Sangti), tetapi ada benang merah yang masih harus diselidiki, mengapa dia menjadi marga Purba sesampai di Simalungun?

    Marga Simalungun itu unik, siapa saja bisa dimargakan di Simalungun, asal dia punya ahap Simalungun, sampai tahun 1933, ketika buruh Jawa Kulikontrak yang habis kontraknya keluar dari perkebunan, di Hutabayu Marubun Tanoh Jawa, ada dari mereka itu menyatukan dirinya dengan marga Sinaga supaya dianggap marsanina (seketurunan) dengan Tuan Marubun Hutabayu Tanoh Jawa, mereka disebut marga Sinaga Tambah. Keterangan ini ada dalam buku Pelzer.

    Jadi saya percaya ada masyarakat asli Simalungun (yang pertama datang ke Simalungun dan menetap dan pencipta budaya lokal Simalungun). Sampai saat ini saya sependapat hanya marga DAMANIK YANG ASLI SIMALUNGUN.

    Marga yang lain itu adalah pendatang dari daerah lain. Tetapi dengan catatan tidak semua datang dari Toba sana, umumnya marga raja-raja Simalungun (yang lebih dahulu tiba di Simalungun)bukan datang dari Toba sana, tetapi dari masyarakat yang sudah lebih maju peradabannya, entah dari India atau Malayu atau Pagarruyung di Minangkabau sana!

    Tetapi sekali lagi ini masih perlu kita buktikan dengan penelitian historis yang dapat diterima logika sejarah!

  3. Parlindungan Damanik

    Terima Kasih kepada Bapak Juandaha Raya P Dasuha atas pencerahannya tentang Marga marga di Simalungun.

    Semoga pencerahan ini sebagai modal awal dalam penyulusuran , pengangkatan dan melihat sejauh mana persebarannya dari Marga marga di Simalungun ini. seperti Lawei katakan
    “…..Jadi saya percaya ada masyarakat asli Simalungun (yang pertama datang ke Simalungun dan menetap dan pencipta budaya lokal Simalungun). Sampai saat ini saya sependapat hanya marga DAMANIK YANG ASLI SIMALUNGUN…..”

    Muhar Omtatok menulis :
    “…..Damanik merupakan morga (marga) asli dan tertua di Simalungun. Jika Damanik diberi arti Simada Manik (pemilik manik), maka Damanik berarti Pemilik Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas)………

    …..…..Sejak zaman Nagur, Damanik telah menjadi leader bagi tamadun marga lainnya. Sebagai marga bangsawan awal, Damanik mengatur tatanan kesimalungunan.
    Jika direnungkan bahwa tiap-tiap raja goraha non Damanik adalah menantu Damanik sebagai Raja kala itu. Bukan sebuah ungkapan berlebihan jika Damanik mempengaruhi dan mewarnai etnografi, linguistik, sosiokultur maupun genetika marga lain…….

    Kami bangga kepada Lawei Juandaha Raya P Dasuha , Lawei Muhar Omtatok , Ambia Erond Damanik dll , dalam menggali dan melestarikan kebudayaan Simalungun. Betapa tingginya Falsafah / Filosofi Simalungun “Habonaron Do Bona” di semua bidang kehidupan ber Ke TUHANAN , Manusia, alam dan lingkungan yang berakar dari Kerajaan Nagur sebagai salah satu warisan yang di persembahkan kepada NKRI.

    Dan kami berharap agar kejayaan Simalungun di Masa Silam dapat di gali, direkontruksikan ,di lestarikan dan diwarisi kepada penerus generasi muda Simalungun dalam rangka Kebhinekaan Indonesia.

    Horas . GBU all Amin.

  4. Saya fikir, tidaklah perlu dipakai istilah “cabang asli” – “cabang Toba”; jika ada asli tentu ada yang palsu.

    Jika diatas ditulis Sitanggang dalam sub clan Saragih, sebagai marga yang tidak asli Simalungun. Ini bisa merusak tatanan sejarah Simalungun. Karena sebelum Damanik muncul di Siantar, Si Tanggang sudah ada di Siantar dan bukan golongan Jabolon (Kawula) namun mereka adalah golongan bangsawan, yang selanjutnya berpindah kewilayah Tanoh Jawa. Kalau disebut Si Tanggang disini tidak asli Simalungun, maka kita harus sebutkan juga Siantar bukan asli Simalungun (?, aneh kan …

    Etnis Simalungun yang Patrilineal ini, memiliki beberapa morga (marga, clan). Seperti Damanik, Saragih, Purba, Sinaga, [Purba] Girsang, Sipayung, Lingga, Sitopu, Silalahi atau marga/orang lain yang sudah memiliki ‘ahap hasimalungunan’.

    Damanik, Saragih, Purba, Sinaga dan [Purba] Girsang adalah morga para Raja. Meskipun rakyatnya tidak mesti semarga dengan rajanya. Pada marga-marga itu juga terdapat sub-clan yang memiliki kisah dan sejarah tersendiri.

    Terkadang muncul sub-clan yang terpisah dengan sub-clan lain, padahal mempunyai induk yang sama. Sebut saja sub-clan Garingging pada Saragih. Beberapa kelompok Saragih Garingging dalam sesuatu proses berubah sebutan menjadi sub-clan lain, misalnya menjadi Saragih Dasalak, Saragih Dajawak dan Saragih yang digelari Permata. Beberapa garis Tuan Raya Huluan di Tambun Marisi yang marga Saragih Garingging awalnya, kini ada yang menyebut dirinya dengan sub-clan Saragih Munthe. Masih turunan yang sama, yaitu turunan Tuan Tarma yang menuju Serdang Bedagai, malah menyebut diri sebagai Saragih Damunthei.

    Inilah dinamika indah ala Simalungun dalam bermarga, yang berbeda pola dengan pola tarombo marga tetangganya.

  5. Juandaha Raya P. Dasuha

    Saya mau sedikit koreksi saja atas keterangan lawei Muharius:

    Bagaimanapun ada penduduk asli di Simalungun yaitu yang menjadi penduduk pribumi pertama di tanah Simalungun (termasuk Serdang Bedagai, Batubarara dan Serdang Hulu). Mereka ini pastilah marga-marga utama yang hanya terdapat di Simalungun–tidak ada di tempat lain. Dalam hal ini (sementara ini)marga Damanik–marga raja Nagur.

    Marga Sitanggang sesungguhnya tidak pernah jadi raja di Siantar (Simalungun). Sumber yang selalu dikutip sejak dulu adalah karangan Tideman (1922). Dan ini dikutip dan dikembangkan oleh penulis tarombo Toba W.M. Hutagalung.

    Masalah ini sudah pernah kami bahas pada waktu mengkritisi buku karya Dr Joko Marihandono di Parapat, buku yang ditulis atas pesanan Pemkab Simalungun era Tuan Zulkarnain itu hendak memberikan landasan kuat pengusulan Tuan Sangnaualuh ke Dinas Sosial untuk menjadi Pahlawan Nasional–sebab Depsos meminta bahan yang bersandarkan arsip yang dapat diterima secara akademisi.

    Dalam bedah buku itu yang dihadiri tokoh-tokoh marga Damanik dan pemerhati sejarah Simalungun, kami mencoba mengulas sebuta Raja Sitanggang (ejaan yang selalu dikutip oleh para penulis sejarah orang Toba, seperti Batara Sangti Simanjuntak, Sejarah Batak, 1977).

    Rupanya Batara Sangti mengutip dari karya T. Luckman Sinar dalam koran SIB berjudul “Sejarah Singkat Suku Simalungun” (1976).

    Setelah dilihat sumber aslinya (kutipan T. Luckman Sinar) dari buku Tideman, 1922 rupanya keliru, dalam buku Tideman itu (boleh dilihat aslinya), di sana ditulis Si Tonggang marga Sinaga. Setelah kalah bertarung dengan Partigatiga Sihapunjung Si Tonggang melarikan diri ke Tanah Jawa di mana mertuanya berasal dari sana.

    Jadi bukan marga Sitanggang dari kelompok Naiambaton–versi W. M. Hutagalung.

    Tetapi Jahutar Damanik menulis agak beda, menurut beliau bukan Raja Si Tonggang tetapi Raja Jumorlang marga Damanik yang jandanya boru Saragih dari Silampuyang kemudian kawin dengan Partiga-tiga Sihapunjung Damanik, dan anaknya Ari Urung kemudian menjadi raja Siantar.

    Tetapi dengan rendah hati, masih perlu kita kaji kembali. Namun yang jelas bukan marga Sitanggang tetapi Raja Si Tonggang.

    Salam.

  6. Omtatok Muharius

    saya setuju uraian Lawei Juandaha Raya Purba,
    Namun saya tidak juga menyebutkan marga Sitanggang dari kelompok Naiambaton–versi rekaan W.M. Hutagalung.

    Namun nyatanya dilapangan , kita menemukan Saragih Sitanggang di wilayah itu yang jelas2 asli Simalungun dan tidak pernah tertuturkan berasal dari wilayah non-Simalungun. Mereka asli Simalungun, dan tentu bisa saja kita kaji punya korelasi terhadap si Tanggang (Tonggang?) tersebut.
    soal Sinaga-nya si Tanggang (Tonggang?), tidak ada referensi kuat yg bisa saya temukan untuk itu.

  7. Sir/Madam

    Lanjut kan Pencarian Keturunan Raja Siantar.Tanpa ada yg ditutup tutupin dan menyebab kan perpecahan,,gb

  8. gita prahara kami

    Pengetahuan tentang marga2 simalungun ini sangat bermanfaat .. Saya bisa lebih mengetahui informasi2 yang sangat penting . Saya gita prahara kami dari MARGA TANJUNG .. Mengucapkan sangat banyak terimakasih ..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>