Arbab, Alat Musik Tradisional Simalungun yang Terancam Punah

arbab

Kesenian sebagai salah satu bagian dari kebudayaan memegang peran penting dalam proses keberlangsungan suatu budaya. Kesenian merupakan wujud atau ekspresi budaya yang dimunculkan dalam musik, olah tubuh (tarian), sastra, dan lain sebagainya. Ekspresi budaya tersebut terdiri diatas dua kategori, yaitu ritual (upacara adat), dan hiburan (profan).

Berbicara mengenai musik tentu tidak lepas dari alat pendukungnya, yaitu alat musik. Dalam tulisan ini, fokus kita adalah Arbab, alat musik tradisional Simalungun. Saat ini Arbab berada di ambang kepunahan.

Kesenian Tradisional

Proses perjalanan kesenian tradisional sekarang ini sudah menapak ke situasi genting, akibat derasnya arus perubahan berupa adaptasi, akulturasi, enkulturasi. Proses perubahan ini bisa saja bermanfaat apabila masyarakat pendukung suatu kebudayaan dapat menjadikan budaya sebagai modal menghadapi kehidupan kontemporer yang semakin kompleks. Namun sebaliknya, terjadinya pergeseran nilai-nilai dapat pula menggerus nilai-nilai budaya tradisional.

Pada saat ini kesenian tradisional terasa makin terpinggirkan karena dianggap kurang praktis, ribet, dan banyak aturannya. Masyarakat lebih memilih menggunakan alat musik yang ringkas, instan dan murah dalam hal dana penyelenggaraannya, sehingga semakin kuat kecenderungan memadukan alat musik modern (keyboard) dan alat musik tradisional. Lebih parah lagi, pertunjukan kesenian tradisional tidak lagi menggunakan alat musik tradisional, melainkan menggunakan alat musik keyboard tunggal yang kini semakini jadi trend.

Pada satu sisi penggunaan alat musik modern, seperti keyboard tunggal dan lainnya dapat membantu reaktualisasi pertunjukan kesenian tradisional. Namun, sebaliknya, penggunaan alat musik modern akan menggeser dan akhirnya memusnahkan kesenian tradisional. Hal ini sejalan dengan konsep kebudayaan yang mengatakan bahwa kebudayaan merupakan suatu hal yang dipelajari maupun diwariskan secara turun temurun.

Lantas, apa yang akan terjadi jika yang diwariskan tinggal benda yang tak bernilai karena sudah kehilangan nilai penggunaannya ? Setidaknya tulisan ini berusaha untuk menjadi semacam dokumentasi singkat mengenai alat musik tradisional Simalungun, yaitu Arbab.

Arbab

Dalam tataran musik dikenal klasifikasi alat musik berdasarkan sumber bunyi, bahan, penggunaan dan lain-lain. Arbab sebagai alat musik tradisional Simalungun digolongkan pada klasifikasi alat musik dawai (senar) yang biasa dikenal dengan istilah kordofon. Alat musik dawai banyak ragamnya di seluruh dunia, sehingga kemiripan satu sama lain sangat mungkin terjadi. Namun, perbedaan yang mendasar pada umumnya terletak pada cara memainkan, dan nada yang dihasilkan.

Arbab menggunakan busur dan dimainkan layaknya biola. Namun, ada perbedaan yang besar pada sikap pemain saat memainkannya. Kalau biola diletakkan di bahu dam lengan, Arbab dimainkan dengan meletakkannya pada posisi bersender 45 derajat, dan kaki pemain menahan Arbab. Dengan demikian si pemain harus duduk di lantai.

Pada umumnya Arbab dimainkan dalam ensambel musik kecil yang dilengkapi tiga musisi lain yang memainkan husapi (sejenis alat musik dawai) dan Odap (gendang kecil) serta piring yang berfungsi sebagai perkusi; sekaligus sebagai metronom bagi permainan Arbab.

Arbab juga merupakan alat musik tradisional yang penggunaannya masuk dalam area ritual, yang menuntut konsentrasi penuh dan penghayatan dalam permainannya.

Proyeksi; Pelestarian Arbab sebagai alat musik tradisional

Penggunaan Arbab pada waktu belakangan ini telah mengalami penurunan intensitas. Hal ini dikhawatirkan dapat menghilangkan Arbab dalam percaturan kesenian tradisional masyarakat Simalungun.

Untuk meningkatkan intensitas penggunaan Arbab selayaknya kita semua berusaha dan bekerja sama untuk melestarikan kesenian tradisional ini menjadi modal budaya dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks. Pelestarian Arbab tidak hanya menjadi tanggung masyarakat Simalungun saja, tapi juga seluruh etnis Batak, Indonesia. Arbab merupakan unsur kekayaan budaya tradisional Indonesia yang amat beragam.

Usaha-usaha untuk dapat melestarikan Arbab sejalan dengan jargon kebudayaan saat ini, yaitu think locally act globally; dengan harapan kedepan bahwa Arbab dapat menjadi modal budaya penting bagi masyarakat dunia pada umumnya dan menjadi kekayaan budaya Simalungun pada khususnya.

Salah satu cara sederhana yang dapat kita lakukan bersama untuk melestarikan Arbab adalah dengan belajar memainkan Arbab atau menggunakan ensambel musik Arbab dalam kesempatan acara-acara adat.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu usaha penting dalam melestarikan nilai-nilai budaya tradisional

Penulis : Ibnu Avena Matondang yang mana telah memberi tulisan ini kepada soerang sahabatnya yaitu “Robert Manurung”,Seorang yang memerdekakan Tanah Batak melalui Komunitas TobaLover dari cengkeraman pengrusak lingkungan, salah satunya Toba Pulp Lestari (TPL).Pada Bulan Mei / 2011 Seorang yang di kagumi ini telah berupalang ke rumah Bapa. Semoga cita-citanya di lanjutkan oleh Kawan-kawan dari Toba Lover dan Forum Hijau Sipiso-piso

 

Sumber : http://www.tobalover.com
Penulis : Ibnu Avena Matondang
Kredit Photo :  Collectie: KITLV
Maker/Artist: Feilberg, K.
Datum/Date: 1870-09

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


One Response to Arbab, Alat Musik Tradisional Simalungun yang Terancam Punah

  1. Samerlina Mariana Sipayung

    Mambege gonrang on, taringat ma au hubani Bapa pakon Inang na marombah au. Tarima kasih bani nassiam tene. Horas diatei tupa

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>